Kabar yang menurut saya seru banget: Dongker menggandeng Inner Sight Games untuk membuat Dongker vs The Ratocrats, gim roguelite beat 'em up yang musiknya diadaptasi dari album Melankolia Radikal.
Latarnya Ratpublic, negara fiktif yang dikuasai politisi tikus, robot aparat, dan goblin birokrat. Tokoh utamanya Dollar, maskot Dongker yang bisa berubah jadi robot raksasa alias mecha, untuk melawan rezim korup dan menghancurkan simbol-simbol kekuasaan. Jadi selain baku hantam, gim ini juga satir politik.
Ketiga personel Dongker, Delpi, Arno, dan Dzikrie, jadi pilihan pilot dengan gaya bertarung berbeda: karakter gitaris mengandalkan cakar cepat dan perisai energi, vokalis memakai lolongan gelombang kejut dan gigitan, sementara drummer punya pukulan berat dan serangan bor. Pemain akan menjelajahi distrik, kawasan pemerintahan, dan gedung-gedung politik ikonik Ratpublic sambil menghadapi unit antihuru-hara, mesin pengawasan, sampai goblin birokrat.
Bagian musiknya yang paling bikin penasaran: lagu-lagu Melankolia Radikal diolah jadi trek instrumental pengiring pertarungan. Album berisi 11 lagu itu dirilis lewat Greedy Dust Records pada 28 Agustus 2026, termasuk "Takbir Terdengar Kejam", "Lautan Bunga Warna Terang", dan "Lagu Selepas Hujan".
Ini bukan kolaborasi pertama mereka. Sebelumnya ada Dongker Beats, gim ritme bergaya 8-bit untuk ponsel. Dongker vs The Ratocrats masih dalam pengembangan untuk PC lewat Steam, dan tanggal rilisnya belum diumumkan. Kabar terbarunya akan dibagikan lewat Instagram resmi Dongker dan Inner Sight Games.
Sumber: Pophariini
Sudah lebih dari lima belas tahun saya mengajar gitar, dan ada satu pertanyaan yang terus-menerus diajukan kepada saya: bagaimana memulai dari nol? Wajar jika merasa bingung menghadapi sesuatu yang begitu besar. Keraguan kedua, hampir selalu, adalah apakah mereka sudah terlalu tua untuk memulai. Jawaban saya tegas: tidak. Tidak ada kata terlambat; waktu terbaik adalah saat Anda bisa memulai dan, yang terpenting, menikmatinya.
Langkah pertama adalah mendapatkan gitar, dan tidak perlu dibuat rumit: gitar pinjaman, bekas, atau baru pun bisa. Saya sendiri mulai dengan gitar klasik yang setengah rusak, yang ditemukan sepupu saya terbengkalai di sebuah proyek bangunan. Jika Anda bermain gitar listrik, ampli atau headphone dengan multiefek akan membantu, tetapi itu tidak wajib di hari pertama.
Setelah itu, Anda butuh pembimbing: guru privat, kursus online, video YouTube, atau sekolah musik di lingkungan Anda. Setiap pilihan punya kelebihan dan kekurangan, dan biasanya orang berganti-ganti di antaranya. Yang penting adalah punya arah dan tidak menyerah. Belajar tercapai dengan mengumpulkan pencapaian kecil: kunci yang hari ini terdengar lebih baik daripada kemarin, perpindahan kunci yang mulai mengalir tanpa perlu dipikirkan.
Saran terakhir saya: nikmati prosesnya. Musiklah yang paling penting, bukan kecepatan. Jika Anda masih ragu, mulailah saja, karena memainkan alat musik adalah pengalaman hidup yang tak terlupakan.
Sumber: David García
3voor12 menjadikan Fat Dog album pilihan minggu ini, dan setelah membaca ulasan Seth de Wildt, saya cukup penasaran. Ini adalah album kedua dari band asal London tersebut: Cancel Me (I'm Tired).
Kelompok lima orang ini terbentuk selama masa pandemi di London selatan, sebagai reaksi terhadap band-band yang terlalu menganggap diri mereka serius. Pertunjukan langsung mereka dikenal sangat energik dan kacau, dan band ini sudah punya status kultus sebelum ada musik resmi yang dirilis. Debut tahun 2024, WOOF., digambarkan oleh pengulas sebagai album yang tanpa kompromi dan intens.
Di album baru, intensitasnya tetap ada, tetapi ada juga momen yang lebih tenang. Judulnya memadukan kelelahan akibat tur tanpa henti dengan budaya pembatalan: ketika seseorang dibatalkan, setidaknya ia bisa beristirahat sejenak. Musiknya memadukan new wave, dance, punk, dan indie.
Ulasan itu menyoroti beberapa lagu. “Smile and Wave” dibuka sebagai rekaman punk yang kokoh dan sebagian besar menyenangkan. Lagu judulnya adalah synthpop yang mengingatkan pada era sembilan puluhan dan lebih cocok untuk berdansa. “Shit love” mengingatkan pengulas pada pembukaan serial remaja Amerika yang dialihsuara dengan buruk. “Heart of Darkness” adalah lagu indie yang mudah diterima dengan melodi yang melekat, dengan vokalis Joe Love di depan, dan lagu penutup “Aliens” dimulai pelan lalu makin besar.
Pengulas menyebut album ini “ras tong sampah yang pergi ke segala arah”, berbeda dari karya sebelumnya tetapi dengan humor yang khas. Ini rekaman yang ingin saya dengarkan keras-keras sebelum berpendapat, dan deskripsinya saja sudah membangkitkan antusiasme.
Sumber: 3voor12
Sebuah kasus penipuan yang cukup tidak biasa di industri musik baru saja mendapat putusan, dan menurut saya layak diceritakan. Menurut VnExpress, Michael Smith, 54 tahun, warga North Carolina, Amerika Serikat, divonis 18 bulan penjara, dua tahun masa percobaan, dan denda lebih dari 8 juta dolar AS karena menipu platform musik daring untuk merebut royalti.
Jaksa Jamie McDonald dari Kantor Kejaksaan Distrik Selatan New York mengatakan Smith memanfaatkan AI untuk melakukan penipuan. FBI menangkapnya pada September 2025, dan ia mengaku bersalah pada Maret tahun ini. Aksi ini berlangsung dari 2017 hingga 2024 dalam tiga tahap: membuat ribuan akun bot di Spotify, YouTube Music, Apple Music, dan Amazon Music; memutar lagu buatan AI secara terus-menerus melalui akun-akun itu, padahal ia mengklaimnya sebagai karyanya sendiri; lalu mengumpulkan royalti berdasarkan jumlah pendengaran palsu.
Ada satu angka yang menarik perhatian saya. Menurut Tom's Hardware, pada April 2023 akun bot Smith memutar musik AI 80,9 juta kali melalui paket keluarga, sementara seluruh katalog Taylor Swift hanya mencapai 9,3 juta putaran di YouTube Music lewat paket keluarga pada periode yang sama. Untuk menghindari deteksi, ia menyebarkan putaran ke ribuan lagu sehingga tidak ada satu lagu pun yang menunjukkan angka pendengar tidak wajar, dan pada suatu waktu ia mengoperasikan hingga 10.000 akun bot sekaligus.
Artikel itu juga mengutip komentar di X yang menyatakan Smith menggunakan AI untuk menciptakan musik sekaligus audiensnya, dan meraup jutaan dolar dari lagu-lagu yang sebenarnya tidak didengarkan siapa pun. Bagi saya, kisah ini mengingatkan bahwa seniman dan industri musik semakin harus membedakan pendengar sungguhan dari pendengar palsu.
Sumber: VnExpress
Afisha Daily menulis tentang album baru Shortparis, “Iliad”, tetapi tulisan sang penulis, yang di redaksi menyebut dirinya penggemar terbesar band ini, terbaca seperti surat pribadi. Berikut hal utama yang ingin saya sampaikan.
Album ini direkam bersama Nikolai Komyagin, yang meninggal pada 20 Februari 2026. Penulis menyarankan untuk mendengarkan piringan ini tanpa membaca siaran pers atau melihat sampulnya. Ia mengingat bahwa video dan pertunjukan Shortparis pernah terasa seperti meramalkan peristiwa yang akan datang, dan ia mengaitkan judul album dengan minat baru terhadap Homeros. Menurutnya, lirik lagu judul dan lagu “Perpisahan” juga sejalan dengan pola itu. “Perpisahan” adalah satu-satunya trek yang hanya mencantumkan Komyagin sebagai pencipta, tanpa band.
Siaran pers mengutip Chernyshevsky tentang “lagu kecil yang berani dan hidup”: dalam konser, Komyagin biasa membacakan bagian itu dengan lantang untuk menenangkan penonton. Album ini terdengar sangat beragam: riff gitar yang kasar, lagu-lagu elegan berbahasa Prancis, dan suara cerah yang hampir seperti rock opera atau musikal, tempat tema-tema tragis dan menakutkan menjadi epik. Ada juga paduan suara gospel dan alat musik tiup.
Penulis ingat bahwa dalam obituari Komyagin di Afisha dikutip ucapannya: album berikutnya akan menjadi karya yang luar biasa. Yang penting, “Iliad” adalah rilisan yang memang direncanakan, bukan kompilasi anumerta, dan bagi penulis ini jawaban bermakna atas pertanyaan apakah bernyanyi itu layak dilakukan.
Saya belum mendengarkan album ini secara utuh, jadi saya tidak akan menilai suaranya. Tetapi cara orang membicarakannya membuat saya ingin memasukkan piringan ini ke daftar dengar saya, setidaknya karena “Perpisahan”.
Sumber: Afisha Daily
Hari ini tepat 20 tahun sejak wafatnya Marek Grechuta, dan Interia Muzyka mengingat kembali kisahnya. Saya ingin merangkum tulisan itu, karena ia memperlihatkan sang seniman dari sisi yang kurang dikenal.
Grechuta meninggal pada 9 Oktober 2006 di Kraków, pada usia 60 tahun, karena gagal jantung. Ia dimakamkan di Jalan Para Terhormat di Pemakaman Rakowicki. Musiknya memadukan puisi dengan lagu, jazz, rock, dan instrumen klasik. Di antara lagu-lagunya yang paling terkenal adalah “Dni, których nie znamy”, “Niepewność”, “Będziesz moją panią”, dan “Wiosna, ach to ty”.
Ia pindah dari Zamość ke Kraków untuk belajar arsitektur. Pada 1966 ia mendirikan kabaret mahasiswa arsitektur Anawa bersama Jan Kanty Pawluśkiewicz, yang kemudian menjadi bandnya. Album debut mereka pada 1970, “Marek Grechuta & Anawa”, memuat “Nie dokazuj”, “Niepewność”, dan “Będziesz moją panią”. Bersama grup WIEM (“W Innej Epoce Muzycznej”) ia menjelajahi jazz dalam album “Droga za widnokres” dan “Magia obłoków”.
Perhatian terbesar tertuju pada penyakitnya. Grechuta mengidap gangguan bipolar, dan masa-masa sulit memengaruhi pekerjaan serta penampilannya. Kadang ia menghentikan atau membatalkan konser dan lupa lirik. Sebagian orang menyalahkan alkohol, tetapi kerabatnya membantah hal itu. Dalam buku Marta Sztokfisz “Chwile, których nie znamy”, Magda Umer menggambarkan betapa sulitnya bekerja dengannya di masa-masa buruk, dan satu-satunya orang yang mampu menanggung kecemasannya adalah istrinya, Danuta, yang ia nikahi pada 1970. Kora mengingat tekanan tur dan kepekaannya terhadap kritik.
Pada 2006, tak lama sebelum wafat, ia menerima Grand Prix atas karya seumur hidup di festival Opole. Bagi saya, kisah ini mengubah cara saya mendengarkan lagu-lagunya: di balik ketenangan itu ada jauh lebih banyak.
Sumber: Interia Muzyka
Video musik lagu baru RADWIMPS「夕星-ゆうづつ-」telah dirilis. Menurut artikel BARKS, lagu ini adalah lagu tema film 『汝、星のごとく』, dan MV-nya muncul pada hari yang sama dengan penayangan film. Lagunya sendiri dirilis secara digital tepat tengah malam tanggal 2 Oktober.
MV ini disutradarai oleh Michihito Fujii, yang juga sutradara film tersebut. Syutingnya dilakukan di Imabari, Prefektur Ehime, lokasi film, di teluk tempat tokoh utama Kai Aono dan Akatsuki Inoue menghabiskan waktu bersama. MV ini memadukan adegan band yang bermain dengan adegan dari film. Adegan penampilan direkam pada hari Festival Kembang Api Onmaku yang diadakan di Imabari pada Agustus 2026, dan disebutkan band bermain di depan kembang api sungguhan.
Karyanya berasal dari novel 『汝、星のごとく』 karya Yu Nagira. Dalam film, Ryusei Yokohama dan Suzu Hirose berperan sebagai pemeran utama, skenarionya ditulis oleh Naoko Adachi dan musiknya digarap oleh Kō Omama. Film ini menggambarkan cinta dan takdir dua orang selama 15 tahun di pulau-pulau Laut Pedalaman Seto. Yojiro Noda berkomentar, "Kebahagiaan Anda bisa Anda tentukan sendiri", dan mengatakan karya ini memberinya harapan.
Yang menarik perhatian adalah penampilan televisi pertamanya. RADWIMPS akan tampil di acara 『Music Station』 milik TV Asahi pada Jumat, 16 Oktober, pukul 21.00 hingga 21.54, dan berencana membawakan「夕星-ゆうづつ-」di televisi untuk pertama kalinya.
Saya pribadi menantikan bagaimana rekaman band yang bermain di bawah kembang api sungguhan dan lagu yang begitu dekat dengan akhir film ini akan terasa. Sementara ini saya akan menonton MV-nya dan menunggu hari Music Station.
Sumber: BARKS
Kutipan Thom Yorke sedang beredar, dan saya merasa anehnya menenangkan: bahkan orang-orang di balik sebuah karya klasik bisa bosan dengannya. Menurut NME, dalam percakapan panjang dengan Harry Styles untuk Rolling Stone, Yorke mengatakan bahwa ia sudah bosan dengan album Radiohead tahun 1997, OK Computer, bahkan sebelum album itu dirilis.
Alasannya sederhana. Band sudah memainkan lagu-lagu itu terlalu sering sebelum album keluar, sehingga ia merasa perlu melangkah maju. Ketika manajer mengatakan mereka harus tur selama dua tahun untuk mempromosikan album, Yorke mengaku memohon agar tidak perlu melakukannya. Tur berlangsung dari Mei 1997 hingga April 1998, dengan lebih dari seratus pertunjukan. "Dua tahun kemudian, kami masih terus berjalan," katanya, sambil menyebut situasinya benar-benar kacau.
Ia juga mengingat konser November 1997 di Birmingham, saat ia keluar dari soundcheck, kehilangan pengawalnya, dan bersembunyi di kereta. Ia menggambarkannya sebagai momen paling dekat dengan usaha untuk kabur. NME mencatat bahwa bassis Colin Greenwood menyebut tur itu sebagai titik terburuk band pada 2003, sebagian karena dampaknya bagi Yorke.
Ada juga cerita yang lebih baru. Radiohead mengumumkan kembali tampil langsung pada September 2025, pertunjukan pertama mereka dalam lebih dari tujuh tahun, dan pada November dan Desember tahun itu mereka menggelar 20 pertunjukan di arena di Madrid, Bologna, London, Kopenhagen, dan Berlin. Yorke bercerita kepada Styles bahwa tur reuni itu menghancurkan kepercayaan dirinya, dan butuh berbulan-bulan untuk pulih. Awal tahun ini Styles memberinya penghargaan Ivor Novello Fellowship, dan di sana Yorke membawakan lagu baru berjudul "Space Walk" untuk pertama kalinya.
Sebagai konteks, OK Computer bersertifikat platinum lima kali di Inggris dan telah terjual lebih dari 4,5 juta kopi, dengan "Paranoid Android" dan "No Surprises" sebagai single yang paling dikenal. Yang saya tangkap dari cerita ini adalah sebuah album bisa menjadi mahakarya bagi pendengarnya dan beban berat bagi orang yang membuatnya, dan kedua hal itu bisa sama-sama benar.
Saya membaca kolom pribadi karya Guillermo E. Pintos di Infobae, yang ditulis setelah ia mengetahui kabar wafatnya penyanyi-penulis lagu Italia-Argentina, Piero. Saya merasa itu cara yang indah untuk berpamitan kepada seorang seniman: menceritakan apa arti musiknya di sebuah rumah biasa.
Pintos mengenang masa kecilnya di pinggiran Olavarría pada pertengahan 1970-an hingga awal 1980-an, ketika radio dan pemutar piringan hitam menyala sepanjang hari dan menjadi pintunya menuju musik baru. Ia menyebut Ricardo Soulé dan Vox Dei, serta album «Cuero caliente» yang dibawa keluarganya dari La Plata untuk kakaknya. Ayahnya, Víctor Pintos, memandu acara olahraga setiap Minggu di stasiun radio lokal LU 32, dan setiap Hari Ayah ia membuka acara dengan «Mi viejo» lalu membacakan teks yang ia tulis untuk ayahnya sendiri.
Bagi penulisnya, lagu itu mengungkapkan kasih sayang antara dua laki-laki pendiam yang tidak pernah tahu cara saling mendekat atau mengatakan apa yang mereka rasakan. Ia juga mengingat duet Piero dengan jurnalis dan penulis José Tcherkaski, yang menulis lirik dengan kacamata sosial dan tokoh sehari-hari, sementara Piero mengurus musik dan penampilan. Dari kerja sama itu lahir «Mi viejo», «Pedro Nadie», «Juan Boliche», «Para el pueblo lo que es del pueblo», dan «Un hombre común».
Kolom itu juga menceritakan bahwa Rubén Blades, saat belajar hukum di Panama, mengatakan Piero adalah artis pertama yang ia lihat membawa balada ke format perkotaan dengan cerita sosial, dan beberapa tahun kemudian Blades menciptakan «Pablo Pueblo». Tentang «Juan Boliche», Pintos mencatat bahwa bar adalah satu-satunya tempat tokoh itu hidup secara sosial, dan nama diri yang menyatu dengan nama tempat membuatnya menjadi bagian dari pemandangan. Ia juga mengenang Mercedes Sosa menyanyikan «Soy pan, soy paz, soy más» di Teatro Ópera pada Februari 1982, ketika kediktatoran masih berkuasa, sebagai tindakan penyembuhan bersama.
Kolom ditutup dengan «Buen viaje, tano». Yang tertinggal bagi saya adalah gagasan bahwa sebuah lagu pendek bisa menyimpan kasih sayang selama puluhan tahun.
Sumber: Infobae
Senang mendengar Claudio Baglioni kembali tampil langsung. Dalam sebuah pertemuan yang diberitakan ANSA, penyanyi-penulis lagu itu menjelaskan bahwa ketika jatuh sakit beberapa bulan lalu, ia takut tidak akan pernah lagi naik ke panggung. Ia menggambarkan kepulangannya sebagai awal yang baru, dan mengatakan bahwa panggung adalah tempat ia paling bisa bersembunyi.
Karena jeda yang terpaksa ini, tur besarnya GrandTour "La Vita è adesso" ditunda ke musim panas 2027. Namun sebelum itu akan ada "Che notte è questa!", tujuh konser di Piazza di Siena, Villa Borghese, Roma: pada 24, 25, 27, dan 28 Oktober, 30 hingga 31 Oktober, serta 1 November.
Lokasinya bukan kebetulan. Pada 24 Oktober 1982, Baglioni tampil di Piazza di Siena ini dengan "Alé-oò", salah satu konser terbuka besar pertama di Italia, dihadiri sekitar 250 ribu orang. Ia mengingatnya sebagai titik balik, sampai-sampai beberapa hari kemudian ia memotong rambutnya untuk menutup satu era. Empat puluh empat tahun kemudian, ia kembali ke sana.
Perpisahan dijadwalkan pada 23 Oktober 2027 di Fori Imperiali, sebagai penutup tur sekitar 50 konser di seluruh Italia. Baglioni menegaskan bahwa ini mungkin bukan penampilan langsung terakhirnya, tetapi akan menjadi yang terakhir dalam bentuk seperti ini, dan ia tidak menginginkan malam perayaan semata. Ia juga mengenang semua tempat di Roma tempat ia pernah tampil: dari stadion hingga Foro Italico, dari aula universitasnya hingga Vatikan, dari Colosseum hingga penjara dan Quirinale. Tempat yang belum pernah ia datangi, katanya, hanyalah halaman. Di usia 75 tahun, ia bermimpi suatu hari bisa tampil di Centocelle, lingkungan lamanya.
Saya suka kejujuran kata-kata ini. Di Campidoglio, saat disambut Wali Kota Gualtieri, ada juga ruang untuk humor: ketika ditanya soal kembali memimpin Festival Sanremo, Baglioni berseloroh bahwa lebih baik menjadi wali kota selama sehari.
Sumber: ANSA
Grup asal Korea Selatan BIGBANG menjadi perbincangan di dunia musik setelah kembali ke Taiwan setelah sebelas tahun. Menurut Central News Agency, sejak 9 Oktober grup ini menggelar konser «XX : COSMOS» selama tiga malam berturut-turut di Taipei Dome, dan hanya di malam pertama sekitar 40.000 penggemar hadir. Kunjungan terakhir mereka ke Taiwan adalah pada 2015 dengan konser «MADE» di Taipei Arena.
Saat ini grup beraktivitas sebagai trio, yaitu TOP, G-Dragon (GD, Kwon Ji-yong), dan Daesung, tetapi kali ini mereka tampil di panggung sebagai grup lengkap. Superstar mandopop Jay Chou mengirimkan keranjang bunga sebagai ucapan selamat. Pertunjukan pertama dibuka dengan «FANTASTIC BABY», lagu andalan mereka dengan 670 juta penayangan di YouTube, lalu dilanjutkan «HANDS UP», «TONIGHT», «BLUE», dan «LOSER». Saat «TONIGHT», GD mengulang adegan legendaris memecahkan gitar, dan seluruh arena bersorak.
Ketiga anggota juga berusaha terhubung dengan penggemar Taiwan. GD menyapa dalam bahasa Mandarin dan memperkenalkan diri sebagai «Kakak Naga», Daesung memperkenalkan diri dalam bahasa Mandarin dan mengatakan ia rindu penggemar, sementara TOP meneriakkan rasa sayangnya dalam bahasa Taiwan. TOP juga mengungkapkan bahwa Taipei adalah pemberhentian pertama tur ini di Asia, bahwa ia tiba malam sebelumnya, makan mi daging sapi dan kue nanas, serta memuji kehangatan dan semangat penggemar.
Setiap anggota juga punya panggung solo. Saat TOP turun dari panggung, ia tergelincir dan jatuh dua anak tangga, tetapi ia segera meraih pegangan dan tidak sampai terjatuh. Setelahnya ia turun ke antara penonton, menggandeng tangan penggemar, dan bernyanyi bersama mereka, membuat mereka terkejut dan senang.
Meski sudah sebelas tahun berlalu, menurut saya 40.000 orang yang bisa bernyanyi bersama bukan hanya berkat lagu-lagu lama, tetapi juga berkat ketulusan para anggota yang ingin berbicara dalam bahasa penontonnya. Masih ada dua malam lagi, jadi jika Anda berencana datang, ada baiknya dicek dulu.
Sumber: Central News Agency
Sudah cukup lama saya menunggu album pertama Iolanda, dan “Quebranto” akhirnya benar-benar rilis pada 8 Oktober. Tiga belas lagu, sudah tersedia di platform digital, dengan singel seperti “Olha P’ra Ela”, “Responso”, dan “Noite Inteira”.
Yang menarik bagi saya dari album ini adalah kembalinya ia ke akar budaya wilayah Tengah Portugal tanpa menjadikannya barang museum. Kata “quebranto” — mata jahat, keadaan yang dialami seseorang setelah orang lain melontarkannya — berasal dari desa tempat ia dibesarkan. Ia sendiri mengatakan bahwa album ini dibuka dengan seseorang yang mengangkat quebranto darinya, lalu setelah doa itu, terungkaplah apa yang tersembunyi di baliknya: trauma, ketakutan, keputusan, dan patah hati.
Secara musikal, viola braguesa hadir hampir di seluruh lagu dan berpadu dengan cavaquinho, alat musik gesek, akordeon, synthesizer, dan pemrograman. Album dibuka dengan suara Nenek Lena di atas gitar dan braguesa. Diproduseri oleh Luar, dengan Iolanda sebagai koproduser; di jajaran penulis lagu muncul nama-nama seperti Carolina Deslandes, Agir, LEFT., Milhanas, Extrazen, dan xtinto.
Peluncuran secara langsung dijadwalkan pada 7 Desember di Coliseu dos Recreios, dalam format 360º, dengan penonton mengelilingi panggung. Bagi saya, inilah jenis album Portugal yang ingin saya dengarkan musim gugur ini: bernuansa pedesaan, melankolis, sekaligus kekinian.
Sumber: Rádio Comercial