Menyulap Limbah Jadi Miniatur Harley-Davidson, Kisah Eri Sutriadji
Usia Eri Sutriadji sudah 72 tahun, tetapi tangannya masih cekatan memainkan potongan pipa PVC, kayu, kikir, dan amplas. Di teras rumah peninggalan orang tuanya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pria yang akrab disapa Eric ini menghabiskan banyak waktu untuk berkarya. Tidak ada mesin produksi besar, hanya paralon, kayu, kawat, hingga fiberglass yang perlahan berubah menjadi replika sepeda motor dengan detail sampai bagian-bagian kecil.
Yang paling sering ia buat adalah Harley-Davidson, dan alasannya terasa personal. Ayah Eric adalah prajurit TNI yang pernah mendapat inventaris Harley-Davidson WLA buatan 1942 untuk tugas pengawalan. Motor itu sudah lama tidak ada, tetapi bentuknya tidak pernah hilang dari ingatan Eric. Dari kenangan itulah ia ingin menghidupkannya kembali dalam ukuran kecil.
Ia mulai mewujudkannya pada era 1990-an, ketika masih menjaga warung kelontong. Saat warung sepi, ia mengambil bahan lalu memotong, membentuk, mengikir, dan menyusun komponen miniatur. Orang sekitar sempat bingung melihatnya karena yang ia kerjakan selalu berganti-ganti. Setiap hari ia menyisihkan Rp 10.000 dari hasil berdagang untuk membeli bahan dan alat.
Menurut saya, kisah ini menunjukkan bahwa hobi miniatur tidak selalu butuh bahan mahal. Dengan barang bekas dan ketekunan, kenangan masa kecil pun bisa dipegang kembali.
Sumber: Kompas.com
Yang paling sering ia buat adalah Harley-Davidson, dan alasannya terasa personal. Ayah Eric adalah prajurit TNI yang pernah mendapat inventaris Harley-Davidson WLA buatan 1942 untuk tugas pengawalan. Motor itu sudah lama tidak ada, tetapi bentuknya tidak pernah hilang dari ingatan Eric. Dari kenangan itulah ia ingin menghidupkannya kembali dalam ukuran kecil.
Ia mulai mewujudkannya pada era 1990-an, ketika masih menjaga warung kelontong. Saat warung sepi, ia mengambil bahan lalu memotong, membentuk, mengikir, dan menyusun komponen miniatur. Orang sekitar sempat bingung melihatnya karena yang ia kerjakan selalu berganti-ganti. Setiap hari ia menyisihkan Rp 10.000 dari hasil berdagang untuk membeli bahan dan alat.
Menurut saya, kisah ini menunjukkan bahwa hobi miniatur tidak selalu butuh bahan mahal. Dengan barang bekas dan ketekunan, kenangan masa kecil pun bisa dipegang kembali.
Sumber: Kompas.com
Komentar 0
Tinggalkan komentar pertama, dalam bahasa apa pun.
Masuk untuk berkomentar