Mengapa Mode Lama Kembali Lagi?
Saya membaca tulisan singkat dari Tuniscope yang terbit pada Juni 2026. Tulisan itu mengajukan pertanyaan yang pasti dikenali siapa pun yang menyukai pakaian lama: mengapa mode kemarin kembali ke depan? Gagasan utamanya, mode sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Ia kembali bertahun-tahun kemudian dalam bentuk baru atau dimodifikasi, dan artikel ini menyebutnya siklus mode.
Tulisan ini dimulai dari nostalgia. Generasi muda sering mengambil inspirasi dari pakaian tahun 90-an dan 2000-an melalui foto, film, dan selebriti yang kembali mengenakan potongan-potongan tersebut. Lalu ada peran media sosial: ketika influencer dan selebriti kembali memakai desain klasik, gaya lama bisa dengan cepat menjadi tren global.
Desainer juga berperan. Banyak dari mereka menghidupkan kembali potongan lama dengan memperbarui warna, potongan, atau kainnya agar sesuai dengan selera saat ini. Artikel ini juga menambahkan sudut pandang ekonomi: pembeli mencari pakaian yang bisa dipakai ulang dan dipadukan dengan berbagai cara, sehingga tren lama menjadi pilihan praktis yang lebih murah dibanding desain baru.
Kesimpulannya, kembalinya mode adalah hasil dari budaya, media, ekonomi, dan memori kolektif yang bekerja bersama. Sesuatu yang tampak kuno hari ini bisa menjadi gaya terbaru besok. Artikel ini bersifat umum dan tidak menyebut nama desainer atau angka, tetapi saya menyukai cara ia menghubungkan nostalgia dengan ekonomi. Itulah yang juga terlihat di pasar pakaian bekas di sini.
Sumber: Tuniscope
Tulisan ini dimulai dari nostalgia. Generasi muda sering mengambil inspirasi dari pakaian tahun 90-an dan 2000-an melalui foto, film, dan selebriti yang kembali mengenakan potongan-potongan tersebut. Lalu ada peran media sosial: ketika influencer dan selebriti kembali memakai desain klasik, gaya lama bisa dengan cepat menjadi tren global.
Desainer juga berperan. Banyak dari mereka menghidupkan kembali potongan lama dengan memperbarui warna, potongan, atau kainnya agar sesuai dengan selera saat ini. Artikel ini juga menambahkan sudut pandang ekonomi: pembeli mencari pakaian yang bisa dipakai ulang dan dipadukan dengan berbagai cara, sehingga tren lama menjadi pilihan praktis yang lebih murah dibanding desain baru.
Kesimpulannya, kembalinya mode adalah hasil dari budaya, media, ekonomi, dan memori kolektif yang bekerja bersama. Sesuatu yang tampak kuno hari ini bisa menjadi gaya terbaru besok. Artikel ini bersifat umum dan tidak menyebut nama desainer atau angka, tetapi saya menyukai cara ia menghubungkan nostalgia dengan ekonomi. Itulah yang juga terlihat di pasar pakaian bekas di sini.
Sumber: Tuniscope
Komentar 0
Tinggalkan komentar pertama, dalam bahasa apa pun.
Masuk untuk berkomentar